Buyut trusmi

24 Apr

Jika tak ada Ki Gede Trusmi, bisa jadi batik Cirebon hanya berkembang di kalangan kerabat keraton. Berkat jasa tokoh itu, seni batik dikenal luas masyarakat cirebon.

Ki Gede Trusmi, atau biasa di sebut Ki Buyut trusmi, pengikut Sunan Gunung Jati, menularkan seni batik sambil menyemai ajaran agama islam di daerah Trusmi abad ke 16. Dia menghabiskan hidupnya dan dimakamkan di daerah itu. Hingga kini, makamnya terawat baik. Bahkan diselenggarakan juga upacara Ganti Welit, mengganti atap makam dengan menggunakan Welit ( anyaman daun kelapa) setiap tahun ganti Sirap 4 taun sekali.

Desa Trusmi Wetan dan Trusmi Kulon, tempat Ki Gede Trusmi mengajarkan seni batik, kini berkembang menjadi sentra utama batik khas Cirebon. Desa yang terletak 7 kilometer arah barat pusat Kota Cirebon itu juga menjadi sebutan corak batik khas cirebon: Trusmian.

Trusmian mendapat pengaruh kuat 2 arus utama, yakni batik pesisiran dan keratonan. Pengaruh batik pesisiran ditandai dengan pengaruh warna-warna cerah dan terang, seperti merah, kuning, hijau, biru. Motifnya juga bebas, melambangkan kehidupan masyarakat pesisir, seperti aktivitas masyarakat atau flora dan fauna.

Pengaruh batik keratonan terlihat dari penggunaan warna dasar krem, hitam, hitam, biru tua, cokelat soga. Motifnya menggambil unsur lingkungan kraton seperti mega mendung, kereta singa barong, ayam alas dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, pengaruh kedua kelompok itu saling melengkapi sehingga batik cirebon memiliki keunikan tersendiri.Keunikan itu semakin khas dengan masuknya pengaruh budaya China, Hindu, Islam.
Beberapa motif khas yang masih ditekuni pengrajin batik trusmi antara lain mega mendung,paksinaga liman, wadasan,singa barong,dan sebagainya.

Diantara motif tersebut, mega mendung merupakan motif paling populer. Motif yang dipengaruhi China itu tidak di temukan di daerah lain. Mega mendung yang berbentuk awan bergumpal-gumpal kini paling banyak di produksi.
Motif yang diciptakan Pangeran Cakrabuana, cikal bakal penguasa Cirebon, mengandung makna pengayoman penguasa terhadap rakyatnya.

Motif lain adalah sawat penganten. Motif yang dibuat dengan garis-garis halus itu dikerjakan dengan ketelitian  tinggi.  Sawat penganten sangat istimewa dan dikenakan pada hari perikahan sebagai penanda hal sakral.

Masa keemasan batik Trusmi berlangsung pada 1950-1968. Koperasi Batik Budi Tresna yang menaungi pengrajin batik di trusmi saat itu sanggup membangun gedung koperasi yang sangat megah.

Usaha batik Cirebon mengalami masa surut era 1970an, tetapi pada 200an kembali menggeliat.Hal itu di tandai tumbuhnya puluhan toko dan butik batik di sepanjang utama Desa Trusmi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: